*Suasana Gerbang Cemorosewu… Kabut tebal bro…
Berawal dari postingan di Wall Gempita (Generasi Muda Pecinta Alam) organisasi pala mbah waktu SMA dulu oleh senior mbah Muhtar Rosyid Faredi a.k.a Monchu a.k.a pardy pada rabu malam 20 April 2011 yang berbunyi : “untuk semua, khususnya angkatan 24: abis UN, nanjak yuk???
“, hati mbah yang sedang galau mendadak seperti menemukan pelarian untuk mengalihkan dan menyembuhkan kepenatan-kepanatan mbah akibat tekanan pekerjaan dan tekanan asmara (walah koyok cah enom ae…:P), pertama tarik ulur berangkat nggak, berangkat nggak bergelora di hati mbah, alasan-alasan pemberatnya yaitu pada sabtu malam mbah harus sdh stanby lagi jaga malam di kantor dan hari minggu paginya ada acara Gemar Makan Ikan di alun-alun Ngawi yang mbah juga mesti turut aktif berpartisipasi sebagai tukang poto keliling. Akhirnya dengan segala pertimbangan demi kedamaian jiwa dan raga, mbah memutuskan wez mboyak, apapun yang terjadi pokoke budhal…
Kamis malam setelah sowan sejenak ke rumah someone special
, mbah memantabkan diri untuk berangkat, maka mbah harus mempersiapkan ubo rampe yang diperlukan untuk perjalanan pendakian esok harinya, untung alat-alat inti pendakian yang mbah miliki seperti tas carrier, sleeping bag, n ponco masih ok n siap digunakan, jadi mbah tinggal mempersiapkan logistik dan obat-obatan pribadi saja.
Jum’at pagi, 22 April 2011. Setelah semua perlengkapan siap sekitar pukul stgh 10 pagi, mbah berangkat dari homebase mbah di ngawi kearah selatan menuju desa pehnongko rumah si Monchu. Sampai di rumah monchu persiapan sebentar kembali cek perlengkapan masing-masing dan sekitar jam setengah 11 kami berangkat menuju cemorosewu. Motor mbah si shogun biru a.k.a blueshaggy tua reot yang sempat mbah khawatirkan tidak mampu melibas tikungan dan tanjakan dalam perjalanan ke cemoro sewu ternyata mampu dan suksess melewati semua rintangannya, sementara monchu yang berboncengan dengan adiknya fauzan harus menggunakan manuver zig-zag agar motor smashnya mampu melibas tanjakan dan tikungan di jalur menuju cemorosewu.
Akhirnya kami sampai di cemorosewu sekitar pukul 12 kurang seperempat, istirahat sejenak merokok sebatang dua batang, kemudian langsung mengambil air wudhu dan persiapan sholat jum’at di masjid depan pintu gerbang cemorosewu, cuaca yang mendung hujan rintik-rintik dan kabut tipis yang mulai turun membuat mbah agak kalut dan was-was apakah jadi mendaki atau tidak. Dalam do’a mbah meminta agar dilancarkan dalam perjalanan pendakian setelah sholat jum’at agar selamat dan suksess sampai pulang kembali ke Ngawi esok harinya. Selesai sholat jum’at, mbah dan monchu langsung menitipkan sepeda motor di penitipan dan makan siang dulu di warung sebelah kanan pintu gerbang cemorosewu.
Selesai makan siang ternyata hujan yang turun semakin deras dan kabut semakin tebal, akhirnya kami bertiga memutuskan untuk tiarap dahulu, sampai hujan agak reda. Sekitar pukul 13.30 hujan sedikit reda akhirnya mbah membulatkan tekat, ayo berangkat…pokoknya harus bisa sampai puncak demi kedamaian jiwa dan raga. Setelah persiapan sejenak tepat pukul 13.45 mbah, monchu dan fauzan melapor dan membayar retribusi @ Rp. 5000 rupiah di posko pendakian cemorosewu, setapak demi setapak jalan licin diguyur hujan rintik-rintik kami bertiga lalui. Jalur cemorosewu ke pos 1 masih belumlah terlalu menanjak dan terjal karena dikanan dan kiri jalur pendakian masih merupakan lahan-lahan pertanian sayur warga sekitar seperti wortel, kobis dan brokoli. Naik sedikit keatas pemandangan kanan kiri berganti menjadi hamparan hutan pinus yang agak renggang milik Perum Perhutani. Perjalanan masih lancar-lancar saja, kami bertiga berjalan sambil bercanda dan mengobrol sana-sini tentang kegiatan kami sehari-hari.
Masalah datang ketika kami hampir sampai di Pos 1 bayangan, hujan kembali turun rintik-rintik dengan trend semakin deras. Kami bertiga mempercepat langkah agar lebih cepat sampai ke Pos 1 dan istirahat sejenak, sekitar pukul 14.30 kami sampai di pos 1, hujan turun dengan derasnya, terdapat beberapa pendaki yang juga menepi dari hujan… rasa dingin mulai menjalar di tubuh kami bertiga karena suhu yang semakin dingin ditambah hujan yang terus ngriwis terus semakin menambah berat rasa kaki untuk melangkah…
bagaimanakah kelanjutan ceritanya???? apakah perjalanan akan dilanjutkan????
tunggu dulu yee… nti merangkai kata lagi






walah fotone mana ki bro?? mosok bayangin doang
By: dhuwurs on April 26, 2011
at 3:23 pm
ok bro,
tp mmg sayang pas berangkatnya dari cemorosewu sampai atas kan hujan jd ga ngluarin kamera blass.. nti pas di puncak ada beberapa foto yg asik, jd qt tunggu yg part II ya..he..he..
By: sastro on April 26, 2011
at 6:09 pm
selanjutnya, dilanjutkan dengan pajang foto2nya dulu bro…
By: djepret on April 27, 2011
at 6:28 am
beres masboss, part II bakalan full poto-poto narsis dari mbah sastro…
By: sastrodoemilah on April 27, 2011
at 9:29 am
Mangstab, jangan lupa foto2nya mas!
By: martinus on April 27, 2011
at 6:24 pm
ok siip mart…. beres
thanx ya udh mampir
By: sastrodoemilah on April 28, 2011
at 9:07 am
wah profesi lain tukang foto keliling to mbah sastro iki ?
By: Darmawan on April 28, 2011
at 10:55 am
he..he.. hanya sekedar tukang mendokumentasikan sebuah peristiwa masbro
blog njenengan tak blogroll nggih… :shakehand:
By: sastrodoemilah on April 28, 2011
at 11:41 am
[...] dari Pendakian Lawu Part I kemarin, ketika hujan mulai deras kami bertiga memutuskan untuk rehat sejenak di pos I, beberapa [...]
By: Sepenggal Kisah Pendakian Gunung Lawu Part II « Sastrodoemilah's Blog on April 28, 2011
at 11:26 am